Monday 17 October 2016

Semua tentang bonsai

MENCARI BAKALAN BONSAI
Secara umum bakalan bonsai hasil buruan memiliki nilai lebih dari pada bonsai hasil perbanyakan. Ada banyak tempat berburu bakalan bonsai di alam liar yang bisa kita buru.Bakalan bonsai yang didapat dari alam biasanya tidak membutuhkan waktu lama untuk ditraining menjadi bonsai. Dalam waktu 1-2 tahun kadang hasilnya sudah berupa bonsai yang berpenampilan menawan.
Sedangkan bakalan bonsai hasil perbanyakan membutukan waktu yang lebih lama. Untuk dapat menjadai bonsai membutuhkan waktu training 2-4 tahun, bahkan kadang-kadang lebih.
Tempat Bakalan Bonsai
Pada dasarnya semua tempat yang masih menampilkan suasana alami memiliki beberapa macam tanaman yang dapat diambil sebagai bakalan bonsai.
Tempat-tempat yang bagus untuk berburu bakalan bonsai antara lain daerah hutan, tebing sungai, tanah tandus berbatu, daerah tepian pantai, tebing-tebing karang, dan pegunungan.
Adapun daerah-daerah di Indonesia yang sering didatangi para pemburu tunggul atau bakalan bonsai cukup banyak. Rata-rata daerah tersebut memiliki tanaman khas dan jarang dijumpai di daerah lain. Provinsi Jawa Barat merupakan daerah gudang bakalan bonsai. Di lembah-lembah daerah Cadas Pangeran, Sumedang, banyak terdapat tanaman sisir. Di pantai daerah Indramayu, Pamanukan, banyak dijumpai tanaman serut.
Daerah Tangerang juga banyak memiliki cantigi laut di sekitar pantai. Selain itu daerah Cidaun, Pameungpeuk, Ranca Buaya, Puncak, Cipanas, dan Sukabumi Selatan juga memiliki tanaman jenis lain yang potensial untuk dibonsaikan.
Daerah Madura dan sekitar Jawa Timur juga banyak menghasilkan bakalan bonsai yang baik. Jenis tanaman yang banyak terdapat di daerah ini antara lain cemara udang (Casuarina), wahong, dan asam. Cemara udang dari daerah ini begitu terkenalnya hingga banyak diminati dari daerah lain, bahkan dari luar negeri.
Daerah Bangka Belitung di Sumatera banyak memiliki tanaman si kuncung. Si kuncung cukup bagus apabila dijadikan bonsai. Sosok tanamannya mirip tanaman cendrawasih. Batangnya kelihatan menua dan pecah-pecah.
Daerah Lampung menyimpan jenis tanaman yang cukup banyak. Jenis yang paling sering diambil tunggulnya adalah bugenvil. Para pedagang tanaman hias di Cibodas banyak mendatangkan tunggul bugenvil dengan bonggol berukuran raksasa dari daerah Lampung.
Ujung barat Pulau Jawa, sekitar Banten, juga menyimpan potensi yang banyak dilirik pencinta tanaman. Di daerah ini banyak terdapat bakalan beringin yang bagus penampilannya.
Di daerah Jepara, Jawa Tengah, banyak terdapat tanaman hokkian tea yang bagus bila dibonsai.
Daerah Sangkulirang, kalimantan Timur memiliki bakalan bonsai yang unik, yaitu ketingting. Di alam bebas tanaman ini sudah unik karena banyak yang berupa tanaman berukuran kecil.

Lokasi yang terpencil atau alam yang kritis biasanya merupakan tempat di mana dapat ditemukan tunggul atau bakalan bonsai yang memenuhi syarat.Selain tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas, masih banyak daerah lain yang memiliki jenis tanaman yang bagus. Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya masih menyimpan keanekaragaman tanaman yang bervariasi.
Alat yang Digunakan
Sesungguhnya untuk berburu tunggul tidak diperlukan banyak alat. Alat yang diperlukan kebanyakan berupa alat berkebun sehari-hari. Para pemburu tunggul di sekitar Malang hanya menggunakan alat sederhana untuk mengambil tunggul. Pasalnya mereka mesti berjalan kaki ke daerah yang banyak tunggulnya.
Daerah lokasi tunggul rata-rata sulit dicapai karena daerah yang gampang dicapai sudah banyak didatangi para pemburu tunggul lain sehingga lokasi pencarian makin lama makin jauh. Akibatnya, hanya alat yang benar-benar penting saja yang dibawa.
Alat yang banyak digunakan untuk mengambil tunggul adalah cangkul atau linggis atau menggali, golok untuk memotong, serta tali dan karung untuk membawa tunggul pulang. Dengan hanya membawa alat-alat ini tunggul yang bisa diperoleh hanya sedikit. Dari pagi buta hingga menjelang sore para pemburu tunggul hanya mampu membawa 4-6 buah tunggul saja.
Ada beberapa pemburu  bonsai yang dapat membawa pulang banyak tunggul. Alat yang mereka bawa tak hanya linggis, golok, tali, dan karung saja. Mereka juga menyiapkan gergaji potong, cangkul, martil, penggempur batu, dan tuas. Kadang-kadang peralatan untuk naik tebing pun mereka sertakan. Ini untuk menjangkau tempat-tempat sulit di ketinggiam tebing. Kendaraan sebagai sarana transportasi dan pembawa tunggul merupakan salah satu hal yang merek perlukan juga.
Pemburu tunggul yang melakukan pencarian di sekitar kediaman mereka dan melakukannya sekedar mencari tamabahan penghasilan sering tidak peduli membawa alat yang diperlukan. Inilah yang mengakibatkan cara pengambilan tunggul menjadi kasar dan sembarangan. Hasil yang diperoleh pun berupa tunggul yang rusak dan luka-luka dengan bentuk yang tidak karuan.




Tempat tumbuh yang sulit seperti karang atau tebing batu pegunungan tidaklah gampang digali bergitu saja. Untuk mengorek serta memotong batu atau karang dibutuhkan waktu sampai berjam-jam. Semakin sulit lokasi dan semakin keras batunya, maka pekerjaan akan semakin lama. Ada pemburu bakalan bonsai yang sampai menghabiskan waktu beberapa hari hanya untuk menggali sebuah tanaman kerdil yang tumbuh di batu gunung yang terjal,
Cara yang gampang untuk mengatasi masalah seperti di atas adalah dengan membawa perlengkapan memanjat tebing. Para pencinta alam atau pemanjat tebing yang senang bertualang ke daerah-daerah mengaku sering menemukan tanaman kerdil yang unik di lokasi pemanjatan.
Dengan menyiapkan peralatan khusus ini, lokasi yang sulit jadi mudah dijangkau. Dengan tambahan alat penggempur  batu, maka batu yang keras dapat dipecah tanpa terlalu merusak lingkungan.

No comments:

Post a Comment